laras.fauziah10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

cerita inspirasi 2

Author: laras.fauziah10
09 16th, 2010

Nama: Laras shafa Fauziah

NRP : D14100008

Laskar 25

KARENA DIA SEORANG AYAH

Sore itu aku baru terlepas dari aktivitas perkuliahan,karena hari itu aku ada jadwal kuliah siang hari. Perkenalkan namaku  Anindia, teman-teman di kampus memanggilku cukup Nindi saja, Aku kuliah disalah satu perguruan tinggi di Kota Bogor. Kembali ke cerita sore itu, perkuliahan selesai tepat pukul 15.00 WIB, Emm…Rasanya ingin langsung ke tempat kost saja, sudah capek dan berniat untuk tiduran sejenak sambil menunggu masuknya sholat Ashar. Jarak yang Aku harus tempuh dari kampus ke tempat kost cukup jauh, butuh waktu 10 sampai 15 menit, lumayan lama tapi nikmatin saja sekalian olah raga.

Di perjalanan pulang,tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku,

“Nindi,,, Nindi,,, Nindi,,, !!!” tiga kali panggilan yang sama aku dengar demikian dan rasa-rasanya Aku kenal betul pemilik suara itu, betul saja Aku kenal dengan dengan suara ini setelah Aku menengok kebelakang, sesosok wanita anggun mengenakan busana muslimah dengan warna orange yang dominan, iya dia Rahayu temanku.

“Nindi, sini dulu?” Dia meminta Aku menghampirinya.

“Gak mau, kamu aja yang ke sini!” Aku balik meminta.

Dia tidak memperpanjang obrolan jarak jauh kita dan berjalan menghampiriku.

“Mau langsung ke tempat kost?” Tanya Rahayu padaku.

“Iya, pengen istirahat!” jawabku sambil tersenyum. Maklum jadwal perkuliahan siang itu mata pelajaran kimia yang menurutku pelajaran itu sangat menguras kemampuan otakku.

Oh iya, perkenalkan temanku ini, seperti Aku bilang, dia Rahayu kami sudah saling kenal lumayan lama, awal perkenalan kami berdua berawal ketika kami akan daftar ulang masuk perkuliahan, kami memang sangat akrab, namun kami berbeda fakultas.

“Oh mau langsung istirahat ya?!” kata Rahayu sambil mecubit pipiku sebelah kanan.

“Sakit tau!!!” kataku sedikit jengkel.

“Heheehee,,, Maaf Di!!!” Dia minta maaf sambil cengengesan.

“Kalau tidak keberatan istirahatnya di taman aja yuk? Tenang kalau mau sholat Ashar, Aku bawa mukena kok! Nanti bisa gantian pake mukenanya, gimana?” Rahayu memelas sambil mengayun-ayunkan kedua tanganku.

Iya, kami memang sudah jarang bersilaturahmi akhir-akhir ini, semenjak UTS kemarin, waktuku habis buat belajar, setelah kuliah Aku sering ke Perpustakaan untuk kembali mengkaji ilmu yang didapatkan, karena perpustakaan tempat paling tentram dan damai juga ruangnya ber-AC, betah banget deh!! Pokoknya perpustakaan tempat favorit buat belajar.Setidaknya menurutku.

“Mau ya Di?” Rahayu memelas kembali.

“Iya deh boleh!” jawabku sambil melempar senyuman.

Jadilah kami pergi ke taman, sengaja kami pilih tempat tepat dibawah pohon beringin, karena ini sudah sering menjadi tempat favorit kami untuk istirahat ketika di taman. Kami berbincang-bincang mengenai kabar terakhir masing-masing, yang paling dominan yang kami perbincangkan tentu mengenai perkuliahan. Ditengah perbincangan kami, persis dihadapan kami lewat satu keluarga, terdiri dari seorang Ayah, Ibu dan Bayi kecil yang lucu, Sang Ayah menggendong Bayi dan Sang Ibu memegang payung bermaksud menghalangi sinar matahari yang waktu itu cuaca memang sedang panas, Aku mencoba menebak-nebak dalam hati mungkin itu keluarga dosen atau mungkin mereka Alumni dari sini yang hendak bersilaturahmi, karena wajah mereka asing bagiku.

“Di, Subhanallah harmonis ya?” Tanya Rahayu tiba-tiba.

“Iya keluarga yang harmonis!!! Jawabku.

Sesaat kami terdiam melihat satu keluarga yang menurut kami harmonis itu.

“Di, Aku tanya sama kamu, siapa yang harus mendapatkan predikat ‘cinta kasihnya paling tulus’ Ibu atau Ayah?? “ tanya dia serius.

“Emm… tentu Ibu yang layak!!!” jawabku enteng.

“Kenapa?” Kembali dia bertanya dengan serius lagi.

“Karena…” Kali ini Aku kesulitan untuk menjawab pertanyaan “Kenapa” dari Rahayu.

“Apa karena Ibu yang lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan kamu setiap hari?”

Rahayu kali ini menjawab pertanyaannya sendiri yang dilemparkan padaku.

“I..ii..ya..aaa..aa..” jawabku terbata-bata.

“Tapi pernah tidak berpikir, bahwa ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelepon kita?!” pertanyaan Rahayu kembali serius. Belum sempat Aku jawab pertanyaannya, dia melontarkan pertanyaan lagi padaku..

“Mau denger ceritaku tidak Di??” kata Rahayu sambil tersenyum. Kali ini Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, Aku hanya tersenyum padanya.

“Iya, dulu Aku juga berpendapat bahwa yang mendapatkan predikat cinta kasihnya paling tulus adalah Ibu, ketika dulu kita masih kecil, Ibu-lah yang selalu bercerita dan mendongeng, tapi tahukah bahwa sepulang Ayah bekerja seharian dan dengan wajah lelah, Ayah selalu menyakan pada Ibu tentang kabar dan tingkah laku kita seharian? Jangan dijawab dulu pertanyaanku ya Di, dengerin saja dulu!” pinta Rahayu. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu Rahayu melanjutkan ceritanya.

“Aku ingat ketika masih kecil menangis merengek meminta boneka beruang pada Ayah dan Ibu. Ibu menatapku iba, tapi Ayah mengatakan kalimat tegas penuh makna “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang!” tahu gak Di, Ayahku melakukan itu karena Ayah tidak ingin Aku menjadi anak manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.”

Aku hanya bisa kembali melemparkan senyum pada Rahayu yang sudah siap-siap melanjutkan ceritanya.

“Di, Aku juga ingat betul ketika Aku memutuskan untuk kuliah ke Bogor, Ayahku tersenyum dan mendukungku padahal Aku tahu bahwa pilihanku tidak sesuai dengan keinginan Ayah, kini Aku gadis dewasa dan harus menetap di kota orang untuk menimba ilmu jauh dari kedua orangtua yang Aku tinggalkan di Kuningan,Cirebon sana. Aku teringat kembali saat-saat Aku diantar Ayah dan Ibu untuk pertama kalinya ke Bogor, Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasihat ini dan itu, menyuruhku untuk berhati-hati, padahal sebenarnya Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukku erat-erat, tapi mungkin badan Ayah waktu itu terasa kaku untuk memelukku, yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata disudut matanya dan mengusap-usap kepalaku sambil berkata “Jaga diri, baik-baik disini ya sayang, Ayah dan Ibu selalu mendo’akan yang terbaik untukmu!” Aku tahu Ayah melakukan itu agar Aku menjadi kuat, kuat untuk menjadi wanita dewasa dan jika saatnya nanti Aku di Wisuda menjadi sarjana, Aku ingin melihat Ayah tersenyum dengan penuh bangga, melihat Aku putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang.” Rahayu pun selesai bercerita, terlihat tersenyum dan matanya merah berkaca-kaca menahan tangis, Aku terharu dan sejenak kami tediam, tidak ada lagi kata lagi yang terucap.

Aku jadi teringat kejadian waktu duduk di kelas 2 SMP, waktu itu Aku mengeluhkan berbagai macam permasalahan yang menimpa Aku waktu itu sama Ayah, Aku merasa capek sangat capek waktu itu karena harus belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, tapi temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, “Aku ingin menyontek saja waktu itu bilang ke Ayah!”, Aku juga mersa capek karena harus membantu Ibu beres-beres rumah sedang temanku punya pembantu, “Aku ingin punya pembantu saja”, Aku capek Aku ingin seperti mereka, mereka terlihat senang Ayah!! Kataku waktu itu sambil menangis. Kemudian Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepalaku sambil berkata “Yuk ikut Ayah, Ayah mau menunjukan sesuatu sama Ade”, Ayah menarik tanganku keluar rumah dan Aku diajak menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek berlumpur, Aku mengeluh dan berucap “Ayah mau ke mana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, berjalanpun susah karena lumpur, Aku benci jalan ini Ayah!” Ayah waktu itu hanya diam saja.

Sampai akhirnya kami samapai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya bening segar dipandang, banyak kupu-kupu beraneka warna, bunga-bunga indah cantik dan pepohonan rindang,

“Wahhh…tempat apa ini Yah? Aku suka! Aku suka tempat ini!” kataku pada Ayah yang diam dan kemudian Ayah duduk dibawah pohon yang rindang beralaskan rumput yang hijau,

“Sini, ayo duduk samping Ayah” pinta Ayah, Aku mengikuti saja dan duduk di samping Ayah,

“De, Tahu gak kenapa disini sepi? Padahal temapat ini begitu indah! Tanya Ayah padaku.

“Enggak Yah, memang kenapa?” Aku malah balik bertanya waktu itu.

“Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu kalau ada telaga disini, tapi merka tidak mau bersabar untuk melewati jalanan itu” ucap Ayah.

“”Oohh… Berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah” Ucapku polos waktu itu.

“Ade butuh kesabaran dalam belajar,butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam bersikap baik, dalam menolong orang lain terutama Ibu, butuh kesabaran untuk mendapatkan kemenangan, seperti jalan tadi. Bukankah Ade harus bersabar saat lumpur mengotori sepatu Ade yang bagus dan bersih, tapi semuanya gak sia-sia kan? Ada telaga yang sangat indah, seandainya Ade gak sabar, apa yang Ade dapat? Ade gak bakalan dapat apa-apa! Jadi bersabarlah ya sayang” Ayah menasehati dengan halus.

“Tapi Ayah, tidak mudah untuk selalu bersabar!” ucapku waktu itu.

“Ayah tahu, oleh karena itu ada Ayah dan Ibu yang Insya Allah selalu ada buat Ade, yang selalu menggenggam tangan kecil Ade agar Ade tetap kuat, ketika Ade jatuh Ayah atau Ibu bisa langsung membantu menganagakat Ade, begitu juga dengan hidup, Ayah dan Ibu bisa mengangkat Ade, tapi ingat Ade tidak selamanya Ayah dan Ibu bisa mengangakat Ade, suatu saat nanti Ade harus bisa berdiri sendiri, jadi gak usah menggantungkan hidupmu sama orang lain, yakin denagn diri sendiri. Seorang wanita muslimah yang kuat, yang tetap bersabar dan istiqomah karena dia tahu kalau ada Allah dekat dengan dia! Jadi Ade harus kuat dalam menyusuri jalan kehidupan, saat yang lain berhenti dan memutuskan untuk pulang, maka Ade tahu akhirnya gimana?” Tanya Ayah.

“Ya Ayah, Ade tahu, Ade akan Insya Allah dapat surganya Allah yang indah lebih indah dari telaga ini, sekarang akau mengerti, terimakasih Yah! Ade akan tetap sabar saat yang lain terlempar!” Ucapku waktu itu berjajnji pada ayah sambl memeluknya erat-erat.

Tiba-tiba…

“Hei, kenapa kok jadi bengong gini?” Rahayu iseng, menepuk pundakku.

“Ahh… Kamu bikin kaget saja!!” Aku tersenyum pada Rahayu.

“Tapi bagaimana kamu bisa tahu, bahwa Ayahmu mempunyai perasaan seperti itu?” Kali ini Aku yang bertanya pada Rahayu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Rahayu berucap. “Ibu yang memberitahukan semuanya, setelah Ayah meninggal 2 minggu kemarin!”

Astagfirullah, Aku kaget bukan main semenjak kami jarang bertemu, Aku tidak tahu kabar tentang Rahayu dan juga tentang meninggalnya Ayah Rahayu, sungguh kaget Aku saat itu.

“Innalillahi wa innalillahi rajiuun, maafkan Aku Yu sampai Aku tidak tahu kabar tentang meninggalnya Ayahmu!” Aku tertunduk sambil memegang kedua tangan Rahayu.

Rahayu hanya tersenyum, Aku memeluk Dia dengan berlinang air mata. Suara adzan memberitahukan  kami bahwa telah masuk waktu sholat ashar, kami bergegas pergi menuju mesjid kampus, tapi sebelumnya kami mengusap air mata masing-masing,

Diperjalanan menuju mesjid Aku mengatakan sesuatu pada Rahayu.

“Yang layak mendapatkan predikat cinta kasihnya paling tulus, Aku masih menganggap Ibu-lah orang yang berhak, mengenai Ayah Aku mempunyai penilaian sendiri, Ayah bagiku sosok yang harus selalu kuat, sosok yang terlihat tegas bahkan saat Dia ingin memanjakan kita sebagai putrinya dan Dia adalah orang pertama yang selalu yakin dan selalu berkata “KAMU PASTI BISA” dalam segala hal, kareana dia seorang Ayah,  Rahayu hanya tersenyum ke arahku.

Sore itu kami akhiri dengan sholat ashar dan pulang menuju tempat kost masing-masing, terimakasih Ayah, terimakasih Ibu, terimakasih Rahayu.



cerita inspirasi 1

Author: laras.fauziah10
09 15th, 2010

Nama: Laras shafa Fauziah

NRP : D14100008

Laskar 25

MENOLONG LEBIH BAIK DARIPADA DITOLONG

Sore itu ku kayuh sepeda dengan sangat kencang karena hari sudah mulai gelap serta gerimis hujan jatuh menyerbu basahi baju,

“Wah Ibu bisa marah kalo sebelum maghrib belum pulang, mana udah jam lima lagi.” Ku kayuh sepeda lebih kencang lagi, jalan tanjakan pun menghadang di depan, kecepatan  kayuhanku tidak berkurang saat menaiki tanjakan,tiba-tiba “Grrrrkkkkk…..” Sepeda berhenti mendadak.

“Astagfirullah…. Haahhhh….!!!!.” Rantai sepadanya lepas dan terjepit diantara gerigi untuk kaitan rantai dan felk ban belakang sepeda.

“Waduh, bisa gempor kalo gendong sepeda sampai rumah!!!.” Hujan gerimis pun tiba-tiba berubah menjadi hujan deras, Aku bergegas mencari tempat berteduh sementara sembari memapah sepeda, tibalah di sebuah bangunan tua bekas toko yang sudah tidak ditempati lagi, Aku pun berteduh di sana menunggu sampai hujan reda.

“Arrrggghhhhh….” Aku menyesali diri karena terlalu asyik main di rumah teman.

“Ihhhh….” Aku coba melepaskan rantai sepeda yang terjepit menggunakan tangan, satu kali menarik gagal, dua kali menarik gagal. “Sakit Ihhh,,,, mana tangan belepotan oli!!!!.”

Saking sibuknya melepaskan rantai, Aku tidak sadar ternyata bukan hanya Aku saja yang berteduh di bangunan itu. Sosok Bapak tua umurnya kira-kira 60 tahunan, dengan pakaian yang lusuh, kotor serta ada beberapa robekan di baju dan celana yang Bapak itu kenakan.Sepertinya dia seorang pemulung.pikirku. Memang jika dilihat dari penampilannya saja sudah bias di tebak bahwa Bapak itu seorang pemulung. Bapak itu duduk beralaskan robekan kardus bekas dan bersandar pada dinding bangunan toko, disampingnya ada karung yang penuh dengan botol plastic dan gelas plastic bekas air minum dan lain sebagainya.

Saat Aku melirik ke arah Bapak tua itu, sorot mata Bapak itu melihat ke arahku, mungkin Bapak itu sudah dari tadi memperhatikanku bersusah payah melepaskan rantai sepeda. Tiba-tiba Bapak tua itu menyodorkan tongkat yang dipegangnya ke arahku tanpa mengatakan sepatah katapun, tongkatnya memiliki kail yang lumayan tajam dari besi, mungkin tongkat ini sering digunakan si Bapak untuk mengorek-ngorek sampah, kurang lebih gitulah pendapatku.

Mungkin pikir si Bapak tongkatnya bisa membantu, bila menggunakan tangan pastilah susah, coba menggunakan tongkatnya dan cungkil rantai yang terjepit pake kailnya, baik benar si Bapak dan idenya juga cemerlang.

Aku terima bantuan dari Bapak itu, tidak ada salahnya buat dicoba. Tanpa banyak pikir dan memulai mencoba mencungkil-cungkil rantai yang terjepit, lima kali Aku mencoba, belum ada hasil. Kesal banget dan putus asa.

“Hmm.. mungkin sepeda harus Aku gendong sampai rumah, di marahi Ibu karena telat tak apa lah!!.” Aku benar-benar menyerah dan tongkatnya Aku kembalikan lagi pada bapak itu. Tapi Bapak tua itu menolak,,

“Coba lagi yang kuat!!!.” ucapnya.

“Oh, iya Pak.” Jawabku. Kali ini Aku cungkil rantainya sekuat-kuatnya sampai kail itu bengkok, benar-benar bengkok!!! “Trreeekkkkk….”

“Yes, yes, yes…alhamdulillah” Rantainya lepas tapi Tongkatnya bengkok! Hujan yang tadi deras pun  mulai reda, rantai sepada Aku pasang kembali, tongkatnya Aku kembalikan ke Bapak tua itu.

“Makasih ya Pak dan maaf kail nya jadi bengkok!!” kataku sambil bersiap-siap kembali menggayuh sepada dan si Bapak pun tersenyum sepertinya tidak marah tongkatnya Aku bikin bengkok.

Alhamdulillah tidak terlalu terlambat Aku tiba di Rumah, tentu Ibu marah dan Aku coba jelaskan kenapa Aku pulang terlambat. Aku ceritakan pengalaman yang tadi sore pada Ibu dan anggota keluarga yang lain.

Dengan pertolongan yang kecil pun dari kita , orang lain masih bisa senang. Apalagi dengan pertolongan dengan skala besar, berapa banyak orang yang merasa senang  akan pertolongan yang kita berikan. Tuhan saja Maha penolong bagi hamba-Nya, sombong sekali jika kita tidak tolong menolong dengan sesama.

Jadi mulai sekarang perhatikan sekeliling kita, yang terdekat dulu saja dari kita, mungkin saja ada yang membutuhkan pertolongan!

Jangan menunggu orang meminta bantuan dan pertolongan dari kita, tapi cobalah kita yang menawarkan pertolongan kepada mereka, minimal semampu kita dengan di dasari mencoba memberikan kesempurnaan dalam setiap tindakan pertolongan itu. Sukses untuk kita.



Pelatihan IT

Author: laras.fauziah10
07 23rd, 2010

Pelatihan IT cyber padi-FKH